Kursi Xavi Memanas: Tiga Laga Berikutnya Jadi Penentu Nasib di Barcelona?

Kursi Xavi Memanas: Tiga Laga Berikutnya Jadi Penentu Nasib di Barcelona?

4 menit baca

Setelah serangkaian hasil yang kurang memuaskan, posisi Xavi Hernandez sebagai pelatih Barcelona dilaporkan berada di bawah tekanan hebat.

Oleh: Budi Santoso | 22 Januari 2024

BARCELONA – Suasana di Ciutat Esportiva Joan Gamper dilaporkan semakin tegang.

Setelah serangkaian hasil mengecewakan yang memuncak pada kekalahan telak 4-1 dari rival abadi Real Madrid di final Supercopa de España, posisi Xavi Hernandez sebagai pelatih kepala FC Barcelona kini berada di bawah tekanan terberat sejak ia mengambil alih kemudi pada November 2021.

Meskipun dewan direksi yang dipimpin oleh Joan Laporta masih menunjukkan dukungan secara publik, sumber internal klub dan laporan media terkemuka di Spanyol mengindikasikan bahwa kesabaran mulai menipis. Tiga pertandingan berikutnya di dua kompetisi berbeda disebut-sebut akan menjadi referendum atas masa depan sang legenda klub di kursi pelatih. Hasil dari laga-laga ini bisa menjadi penentu apakah proyek Xavi akan berlanjut atau berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan.

Akar Masalah: Krisis Performa dan Inkonsistensi Tekanan yang dihadapi Xavi bukanlah tanpa sebab. Barcelona di musim 2023-2024 terlihat seperti bayangan dari tim yang berhasil merebut gelar La Liga musim lalu dengan pertahanan yang solid. Musim ini, Blaugrana tampak rapuh, kurang ide dalam menyerang, dan terlalu mudah kebobolan.

Beberapa masalah utama yang menjadi sorotan adalah:

Pertahanan yang Keropos: Musim lalu, Barca hanya kebobolan 20 gol dalam 38 laga La Liga. Musim ini, gawang mereka sudah kebobolan lebih dari jumlah itu bahkan sebelum paruh kedua musim berjalan intens. Kehilangan soliditas di lini belakang menjadi perhatian utama.

Ketergantungan pada Individu: Serangan tim seringkali terlihat buntu dan sangat bergantung pada momen-momen magis dari individu seperti Lamine Yamal atau Ilkay Gündoğan, bukan dari skema permainan kolektif yang terorganisir seperti yang diharapkan dari filosofi Barca.

Inkonsistensi Hasil: Kekalahan dari Real Madrid di Supercopa adalah puncak gunung es. Sebelumnya, mereka sudah kehilangan poin melawan tim-tim seperti Rayo Vallecano, Granada, dan menderita kekalahan menyakitkan di kandang dari Girona (4-2) yang menunjukkan inferioritas taktis.

Gagal di Laga Besar: Selain dihancurkan Madrid, performa melawan tim-tim kuat lainnya juga tidak meyakinkan, menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan mental dan taktis tim di panggung terbesar.

Kondisi ini membuat posisi Barcelona tertinggal cukup jauh di klasemen La Liga dari Real Madrid dan Girona, sementara harapan untuk mempertahankan gelar semakin memudar.

Tiga Laga Penghakiman: Copa del Rey dan La Liga

Dengan gelar La Liga yang terlihat semakin sulit, fokus kini terbagi pada kompetisi lain yang lebih realistis untuk dimenangkan: Copa del Rey. Oleh karena itu, dua dari tiga laga krusial berikutnya datang dari ajang ini, di mana kegagalan tidak bisa ditoleransi.

  1. Athletic Bilbao vs Barcelona (Perempat Final Copa del Rey)

Pertandingan ini bisa dibilang yang paling krusial. Bertandang ke San Mamés adalah salah satu ujian terberat di sepak bola Spanyol. Athletic Bilbao di bawah asuhan Ernesto Valverde sedang dalam performa fantastis. Tersingkir dari Copa del Rey, satu-satunya trofi domestik yang paling mungkin diraih musim ini, akan menjadi pukulan telak bagi Xavi dan bisa menjadi pemicu keputusan drastis dari dewan. Kemenangan di laga ini tidak hanya berarti lolos ke semifinal, tetapi juga membeli waktu dan kepercayaan bagi sang pelatih.

  1. Barcelona vs Villarreal (La Liga)

Setelah laga tandang yang sulit, Barcelona akan kembali ke Estadi Olímpic Lluís Companys untuk menghadapi Villarreal. Meskipun The Yellow Submarine sedang berjuang di papan bawah musim ini, mereka memiliki kualitas untuk menyulitkan tim mana pun. Bagi Xavi, pertandingan ini bukan hanya tentang meraih tiga poin untuk menjaga asa di La Liga, tetapi juga tentang bagaimana timnya meraih kemenangan. Publik dan dewan ingin melihat performa yang meyakinkan, dominan, dan menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang jelas. Kehilangan poin di kandang melawan tim papan bawah akan semakin menyudutkan posisinya.

  1. Barcelona vs Osasuna (La Liga)

Laga kandang berikutnya melawan Osasuna menjadi penutup dari rangkaian tiga pertandingan penentu ini. Sama seperti laga melawan Villarreal, kemenangan adalah harga mati. Osasuna adalah tim yang terorganisir dengan baik dan sulit dikalahkan. Xavi dituntut untuk kembali menunjukkan bahwa ia bisa membawa timnya meraih hasil positif secara konsisten, terutama di kandang sendiri.

Masa Depan di Ujung Tanduk

Xavi Hernandez adalah legenda klub, dan memecatnya bukanlah keputusan yang mudah bagi Joan Laporta. Namun, Barcelona adalah klub yang hidup dari kemenangan dan trofi. Jika dalam tiga laga ke depan tim tidak menunjukkan progres signifikan—terutama jika tersingkir dari Copa del Rey dan kembali kehilangan poin di La Liga—maka narasi tentang “proyek jangka panjang” bisa saja berakhir.

Dunia akan mengamati dengan saksama. Apakah Xavi mampu membangkitkan pasukannya dan melewati badai ini, atau akankah tiga pertandingan ke depan menjadi babak akhir dari karier kepelatihannya di klub yang paling ia cintai? Jawabannya akan kita ketahui dalam beberapa minggu ke depan.

Komentar